7/21/2015
7/12/2015
BUMI SPIRITUAL PERKEMAHAN SANTRI MAMBAUL HUDA
Pekalongan - “ Rukhsoh ya Ustadz, Asta’dzin an a’khudzal ma’” ucap Fuadz
seorang santri asal Jakarta sambil memfasih-fasihkan bahasa arabnya yang
terdengar kaku, Ustadz yang mendengar hanya mengembangkan senyum dan
menyuruhnya mengulangi kalimat tadi dengan pengeras suara. Sambil terburu-buru
karena hendak mengambil air ia mencoba mengulangi lagi kalimat tadi, yang
kurang lebih berarti “ permisi pak, saya minta izin untuk mengambil air “
dengan pengulangan yang semakin difasih-fasihkan.Selesai mendapat izin, antara
ustadz dan santri saling bertukar senyum disambar ucapan terimakasih yang juga
masih menggunakan bahasa arab “ Syukron Ustadz, Sa arji’ Syur’atan “ ( makasih
pak, saya akan kembali dengan cepat ), kemudian santri keluar dari kawasan
perkemahan untuk menjalankan misinya, mengambil air.
Ya,dimulai sejak Sabtu
30 September2014 seluruh santri dari pondok pesantren Mambaul Huda Pajomblangan,
Kedungwuni Pekalongan mengikuti perkemahan, kemah Ar-Riyadhah namanya. Jika diterjemahkan
kurang lebih berarti“ penggemblengan spiritual “. Selain menjadi ajang penggemblengan
spiritual, perkemahan ini juga melatih
para santri untuk lebih mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitar secara
lebih mandiri dan bertanggung jawab.Bukan hanya latihan individu saja yang
mereka dapatkan, seperti perkemahan pada umumnya yang membagi para peserta ke
beberapa regu, kemah para santri ini juga terbagi menjadi 19 regu, Kekompakan
mereka dalam regu diharapkan mampu melatih mereka untuk memiliki sikap empati
dan simpati yang tinggi dalam bermasyarat kelak. Kepentingan bersama menjadi
nomor satu dan kepentingan pribadi entah nomor kesekian, begitulah mereka
diajar disana.
Sebelum mengikuti
perkemahan yang terletak di daerah Cepagan, Warung Asem kabupaten Batang Jawa
Tengah ini, para santri tidak hanya mendapatkan pembekalan tentang apa-apa yang
diperlukan pada saat kemah, mereka juga mendapat pembakalan bahasa Arab.
Per-regu akan diberi buku saku
percakapan bahasa arab yang nantinya wajib mereka gunakan dalam kemah, terlebih
saat bercakap dengan para ustadz atau hendak meminta izin keluar dari kawasan
perkemahan, makan keluar, mengambil air, atau hanya sekedar hendak
berjalan-jalan sebentar, semua memakai bahasa Arab. Pantas beberapa santri
nampak gugup, terlebih jika harus berbicara bahasa Arab dengan pengeras suara
di sekertariatan, mental parapeserta yang kebanyakan berusia antara 12-15 tahun
ini pun akan teruji.


Selain beberapa
agenda umum, seperti pramuka, lomba, senam, PBB, kegiatan budaya dan lain
sebagainya, para santri juga banyak mendapat pengalaman sepriritual, baik
berupa kewajiban berjamaah 5 waktu, mungkin para santri sudah sangat terbiasa
dengan kewajiban berjamaah, tapi berjamaah ditengah kesibukan yang padat
menambah nilai tersendiri bagi kedisiplinan mereka. Kuliah pengajian setelah
jamaah, Qiyamul lail dan dzikir bersama juga dilaksanakan ditengah-tengah
padatnya agenda perkemahan.Dan tidak kalah mengesankan, renungan malam “saya
seperti kehabisan waktu untuk melakukan keburukan “ ujar seorang peserta yang
selesai menangis tersedu-sedu dalam renungan malam. Biasanya setelah renungan
malam para santri seperti kembali memiliki hati yang tidak ingin lagi berbuat
keji, mereka merasa keburukan – keburukan yang lalu merupakan hal yang tidak
pantas lagi untuk mereka, dan kebaikan yang terlewatkan, menjadi penyesalan
yang mendalam dihati mereka, dan renungan itu, sebagian besar sukses menanamkan
keyakinan kuat untuk melakukan banyak
kebaikan dimasa mendatang.
Begitulah mereka
selama 3 hari mendapat pengalaman berharga, baik dari segi agama budaya dan
banyak pengalaman positif lain, seperti yang diterangkan oleh Kak MABIGUS Ky.
Adib Karomi di sela-sela perkemahan “ perkemahan ini hendaknya mampu
mengaktualisasikan nilai-nilai agama, intelektual dan budaya dalam kehidupan
sehari-hari “.
Perkemahan itu
kemudian ditutup pada 2 Oktober 2014 dengan upacara bendera, resmi sebagaimana
yang dilakaukan pada pembukaan, dalam penutupanya ketua panitia penyelenggata,
Ust Didik Madhari yang merupakan alumni dari pesantren Gontor berharap “ semoga
perkemahan ini bukan hanya menjadi ajang tahunan bagi para peserta, namun mampu
memberi bekal untuk menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat kelak “.
Ditulis oleh : M.
Akrom Adabi*
*Santri PP.
Mambaul Huda dan mahasiswa aktif semester 5 Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Anwar.
Hari Kemerdekaan, Seluruh Santri Ikuti Upacara
Khusyuknya Upacara Para Santri
Pajomblangan - Hari ini rakyat
Indonesia merayakan hari ulang tahun republik yang ke 69, dengan semangat patsriotisme,
upacara-upacara bendera telah dilaksanakan pagi tadi di seluruh penjuru negeri,
tidak ingin ketinggalan menunjukan sikap patriotisme, Seluruh Santri ponpes
Mambaul Huda diikuti lembaga-lembaga pendidikan formal yang ada di desa
Pajomblangan, mulai dari RA Muslimat, MI, SD, SMP beserta segenap warga hari
ini juga juga berkumpul dan rela berpanas-panasan untuk ikut meramaikan HUT RI
ke 69. Upacara bendera yang diikuti oleh seluruh santri dan berbagai lembaga
sekolah di desa Pajomblangan ini memang rutin diadakan setiap tahun dalam
memperigati HUT RI.
klenteng, lapangan desa yang menjadi tempat upacara sudah mulai dipenuhi
para peserta sejak pukul 07.00 pagi tadi, Iringan musik marching band
fatanabila makin menambah semangat para peserta dalam melaksanakan upacara
tersebut, dan menambah kemeriahan satu demi satu acara yang telah diagendakan.
Santri-santri memang sudah tidak
asing lagi dalam keseharian masyarakat Pajomblangan dan sekitar. Pasalnya,
sejak tahun 1990 mereka sudah mulai berbaur dengan para santri, hingga kini pesantren
tersebut masih tetap eksis, jumlah santrinya pun sampai saat ini terhitung hampir
mencapai 1000 santri yang juga menempuh pendidikan formal.
Pondok pesantren merupakan sistem
pendidikan tertua di Indonesia, pengajaran dalam pesantren bukan hanya
mengedepankan kecerdasan otak, kecerdasan hati juga menjadi prioritas dalam
mendidik para santrinya, tidak hanya itu, pesantren juga berusaha membangun
sikap patriotisme dan cinta tanah air. Apalagi saat hari-hari besar nasional tiba, momen ini
banyak dijadikan sebagai motifasi cinta tanah air, sebagaimana yang dilakukan
oleh pesantren Mambaul Huda, yang mana santrinya terus eksis mengikuti upacara
bersama di lapangan desa Pajomblangan.
Upacara 17 Agustus, merupakan momen
yang tepat untuk kembali mengingat para pahlawan, dan bercermin melalui
sejarah. “ hendaknya, melalui upacara seperti ini, kita dapat lebih mengenang
para pahlawan pendahulu, dan bertafakur “ ungkap kyai Adib Karomi selaku
inspektur upacara dalam pidato di tengah-tengah upacara bendera. Sejak diproklamasikannya kemerdekaan pada
tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memang sudah merdeka dari penjajahan fisik,
penjajahan yang dapat dengan mudah dirasakan, dan dapat diketahui bahwa negeri
ini sedang terjajah, tapi sejatinya penjajahan ini akan terus berlangsung namun
dalam bentuk-bentuk yang lain. Penjajahan budaya, penjajahan ekonomi,
penjajahan peradaban dan penjajahan-penjajahan lain yang membuat bangsa ini
akan terus terjajah, hal ini bisa terobati kala muncul para pahlawan-pahlawan
baru yang senantiasa berkorban demi bangsa, “ oleh sebab itu kita harus mau
menjadi pahlawan-pahlawan baru, agar penjajahan ini lekas teratasi “ lanjut
Inspektur upacara yang juga menjadi pengasuh ponpes Mambaul Huda ini.
Tahun ini, upacara kembali selesai
dengan lancar seperti biasanya, pukul 08.45 para peserta sudah mulai
meniggalkan lapangan upacara, tapi kemeriahan dari para peserta belum cukup
sampai di sini, sambil pulang ke masing-masing tempat sekolah, mereka tetap
menjaga barisan dan berjalan bersama diiringi drumb band yang terus menyanyikan
lagu-lagu nasional.
Kemudian, lomba santri terbuka khas
17 Agustus-an juga turut meramaikan deretan acara hari ini, para santri sangat
antusias mengikutinya hingga menjelang sore, lomba tersebut dilaksanakan di
halaman ponpes Mambaul Huda. Bagi para santri sendiri, momen ini menjadi ajang
pelajaran dan kedisiplinan serta hiburan dan sportifitas.
Diskusi para kyai NU : Ancaman Transnasional bagi persatuan bangsa
Diskusi para kyai NU : Ancaman
Transnasional bagi persatuan bangsa
Sarang - Sejak pukul
09.00 WIB alunan musik marching band Al-Anwar sudah mulai mengiringi para tamu
undangan yang berdatangan dan berkumpul di halaman gedung sekolah tinggi
Al-Anwar, jumlah seluruh peserta acara yang ratusan ini mulai memadati ruangan
hingga acara dimulai pada pukul 10.00 WIB, acara yang mengundang ulama-ulama
besar, seperti Syaikh Maimoen Zubair Sarang, Syaikh Rajab Dib Syiria dan ulama
beasr lain ini adalah sebuah acara yang dilaksanakan oleh Majma Buhuts
An-Nahdliyah, bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Al-Anwar yang menjadi sekolah
tinggi dibawah naungan KH. Maimoen Zubair,
Majma Buhuts An-Nahdliyah sendiri merupakan sebuah forum yang diadakan
guna membahas hal-hal yang berkaitan seputar keislaman.
Melihat berbagai masalah
serta konflik internasional yang memprihatikan, seperti munculnya kelompok
bergaris keras ISIS ( Islam State Of Iraq and Syam ), Runtuhnya
kekuasaan-keuasaan di timur tengah, memanasnya kembali konflik palestina dan
israel serta berita-berita lain yang berujung pada kelompok transnasional yang
bergerak seperti menebar jala dan
memunculkan sebuah perpecehan, Para cendekiawan muslim sungguh tidak
mengharapkan hal ini terjadi dan sebelum masalah ini benar-benar merasuk ke
tubuh NKRI maka Majma Buhuts An-Nahdliyah mengadakan sebuah forum pencerahan
serta diskusi yang mengundang berbagai tokoh dalam ahlinya serta mengundang
banyak pihak dari berbagai Instansi guna mengantisipasi akan hal-hal yang tidak
diinginkan dan dapat mengancam keutuhan NKRI. Diharapkan dalam forum ini mampu
memberikan pemahaman terhadap kelompok-kelompok transnasional, agar kemudian
mampu membentengi dan menjaga diri, serta membentuk masyarakat Indonesia yang
lebih berkarakter.
Dalam sesi keynote
speacker, KH. As’ad Syaifudin Ali memaparkan berbagai golongan kelompok mulai
dari yang berbasis Aqidah, Jihad serta politik beserta cara mengatasi jikalau
menemukan golongan yang membahayakan dengan kedok Islam. “semoga dalam forum
ini memunculkan sebuah saran yang jitu untuk pemerintah dan pemerintah lebih
berani dalam bertindak” lanjut KH. As’ad Syaifudin Alu dalam keynote
Speacker-nya.
Dalam sesi lain, Sayikh
Rojab Dib dari Syiria menjelaskan bahwa awal dari perpecahan umat islam adalah karena
ke-tidak mampu-an umat dalam membaca kitiab suci Al-Quran dan hadits nabi sebagai ilmu pengetahun dan wahyu, sehingga
perpecahan menjadi dan peran lembaga pemerastuan lembaga yang mendamaikan
kelompok yang berseteru memiliki peran yang sangat penting di tengah-tengah permasalahan
ini.
Syaikh Maimoen Zubair juga sangat
mewanti-wanti persatuan dengan menceritakan sejarah keberhasilan ulam terdahulu
dalam menyatukan umat pada satu wadah
yakni Nahdlatul Ulama, dalam menyelesaikan masalah perpecahan ini rasa
patriotisme tanah air sangat dibutuhkan agar perpecahan tidak terus bertambah
besar “ Satu-satunya tempat kembali yaitu NKRI ” terang Mbah Mun, sapaan Syaikh
Maimoen Zubair.
Setelah berisitirahat
selama satu jam, dilanjutkan sesi selanjutnya yakni focus group discussion,
yang dinarasumberi oleh Gus Yahya Staquf dan Gus Ghofur, sapaan akrab Dr. Abdul
Ghofur, ketua STAI Al-Anwar tersebut. beliau menjelaskan berbagai kelompok yang
muncul melalui sudut pandang teologi dan fiqh, dalam diskusi ini juga memunculkan
banyak sekali ide-ide dan pandangan sebagaima saran dari Syaikh Rojab Syriria
yang mengharapkan adanya lembaga pendamai dalam kelompok yang sering bertikai
pun terjawab “ NU merupakan organisasi besar yang memiliki wadah dari anak-anak
hingga tua sekalipun dan juga memiliki cabang organisasi yang banyak “ ujar Gus
yahya. Selain itu sikap perubahan dan tindakan positif dari tiap warga NU juga
perlu dibudayakan agar islam tidak mudah pecah dan NU bisa menjadi pemersatu “
kebesaran islam nusantara dan sikap khidmah dari setiap warganya, itulah yang
menjadi islam ini makin kuat” lanjut gus Yahya, kemudian panasnya berita
tentang isi juga tidak luput dari pembicaraan, ”mengenai ISIS, bahwa
pembersihan ISIS harus juga pada ideologinya agar kemudian tidak muncul
ISIS-ISIS baru dengan nama yang lain”
papar seorang hadirin dalam sesi Tanya jawab.
Setalah berdiskusi selama
dua jam, acara ini pun selesai pada
pukul 16.00 WIB dan dalam penutup, Ustadz
Muadz Thohir, yang menjadi salah satu pengasuh pondok pesantren Matholiul Falah
Pati memerintahkan agar selesai diskusi ini, tidak ada kepuasan bagi para hadirin
sehingga pengetahuan dapat terus ingin dicari.
PP Mambaul Huda Gelar Sidang Munaqosah Santri
Sidang Munaqosah PP Mambaul
Huda
Dan
SMP NU BP Pajomblangan Tapel 2014-2015
Dan
SMP NU BP Pajomblangan Tapel 2014-2015
Pekalongan – SMP NU Berbasis Pesantren Pajomblangan Senin (16/6) kemarin menggelar acara pelepasan para
siswa siswi kelas IX, acara tersebut berlangsung hikmat dan membahagiakan.
Pasalnya, selain acara pelepasan, malam Selasa lalu itu juga diisi dengan
sidang kelulusan santri putra putri Ponpes Mambaul Huda yang telah selesai
mengkhatamkan Al-Quran bin Nadlor dan berbagai kitab salaf, selain itu ada juga beberapa acara tambahan yang
berlangsung dengan meriah.
Sejak menjelang petang acara sudah dimulai dengan lantunan rebana
Ponpes Mambaul Huda Pajomblangan yang tahun ini mendapat predikat juara II
dalam Olimpiade Al-Quran Dan Sains (OASIS) se-Jateng I. Hingga menjelang Isya
para santri yang hendak menjalani sidang tersebut mengkhatamkan Al-Quran dengan
pembacaan Juz Amma.
Berdasarkan penjelasan ketua panitia, Chozinatul Absor, S.Pd.
Pelepasan siswa tahun ini diikuti oleh
65 siswa kelas IX dan 29 santri khotmil Quran dan Kutub serta 475 tamu
undangan dari beragam elemen, mulai orang tua wali dan tokoh masyarakat
setempat.
“Acara-acara tersebut memang dilangsungkan lebih awal guna
menghemat waktu karena acara malam itu berisi beragam acara. Kemudian acara
pelepasan juga digabung dengan sidang kelulusan santri.”jelas ketua panitia.
Para siswa-siswi yang hendak diwisuda diarak dari masjid dengan
iringan Marching Band Fata Nabila hingga menempati tempat acara. Keceriaan suka
cita juga terlihat dari wajah para wisudawan. Selanjutnya diisi sidang para
santri tentang ilmu pengetahuan agama dan siswa-siswi tentang ilmu pelajaran
sekolah dengan hasil yang memuaskan. Bertindak sebagai ketua hakim sidang santri, Ustadz
Ismail Sholeh dengan dua hakim pembantu, Ustadz Mujahidin dan Akrom Adabi.
Sedangkan untuk sidang wisuda dipimpin oleh hakim Kyai Adib Karomi dengan dua
hakim pembantu Bapak Kunaifi, S.E. dan bapak Ahmad Wajiz, S. Ag.
Pada pertengahan acara, para siswa-siswi SMP NU BP yang berprestasi
berkenan mendapatkan penghargaan hadiah sebagai bentuk apresiasi. Selain itu,
pemberian hadiah secara simbolis bagi para siswa yang memenangkan berbagai
perlombaan mulai dari tingkat kecamatan, maupun propinsi juga dilangsungkan pada malam itu juga.
Kepala Sekolah SMP NU BP Pajomblangan, Kyai Adib Karomi dalam
pelepasan kemarin mengaku bangga kepada para siswa-siswinya karena meskipun
sekolah swasta dan berada di pedesaan, sekolah tersebut juga tetap mampu
bersaing dan menyabet beragam prestasi di berbagai perlombaan, termasuk pada
malam pelepasan tersebut tiga siswa dan satu guru tidak bisa hadir karena
tengah mengikuti lomba tingkat Provinsi.
Selanjutnya, Kyai Adib
Karomi yang juga sebagai pengasuh pondok pesantren Mambaul Huda menghimbau
kepada para murid-muridnya untuk tetap mencari ilmu yang berakhlaq dan
berakhlaq dengan ilmu, sebagaimana visi misi sekolah tersebut “Berilmu,
Beretika, dan Berestetika.”
“jangan sampai kalian melupakan tatanan ilmu dan amaliyahnya serta
keauladanan para asatidz yang berhaluan Ahlussunah
Wal Jamaah sebagaimana yang telah diajarkan disekolah ini, siang jadi priyai
malam jadi kyai, di kantor bekerja dengan profesional di masyarakat penuh bakti
dan amal.” Imbuh kyai Adib Karomi dalam sambutannya.
Sebab Perselisihan Awal Masuk Bulan Ramadlan
MENCABUT AKAR PERSELISIHAN UMAT
Tinggal menghitung hari,
seluruh umat muslim sedunia akan memasuki bulan suci ramadlan, dimana umat
muslim yang mukallaf akan menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh, Kewajiban
pelaksanaan puasa bulan Ramadlan sendiri baru muncul pada tanggal 10 Sya’ban 18
bulan setelah Nabi Saw hijrah ke Madinah, yakni tahun ke dua hijriyah. Allah
Swt berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ
عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Hai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” ( QS. Al-Baqarah : 183]
Di Indonesia sendiri, sebentar
lagi ormas-ormas islam dan beberapa lembaga akan menyibukan diri dengan
penentuan awal masuk dan akhir bulan Ramadlan, yang menarik adalah hampir
setiap edisi bulan Ramadlan di Negeri ini selalu diwarnai dengan perselisihan
mengenai kapan jatuhnya tanggal 1 Ramadlan, belum habis sampai disini,
penentuan berakhirnya bulan Ramadlan pun juga diperselisihkan. jadi tidak
jarang kita menemukan ada penduduk di suatu daerah yang sudah merayakan hari
raya terlebih dahulu dan hari besoknya baru penduduk lain yang merayakannya.
Penggunaan Metode
Dalam menentukan awal
masuk suatu bulan dalam kalender hijriyah, kita mengenal istilah rukyat, istiktimal
dan hisab. rukyat ialah menentukan awal masuk suatu bulan dengan cara melihat bulan
sabit ( Hilal ) yang nampak pertama kali pada tanggal 30 kalender hijriyah. rukyat
hanya bisa dilaksanakan pada waktu awal petang karena bulan sabit yang sangat
tipis ini hanya terlihat pada waktu-waktu tersebut ditambah lagi intensitas
cahayanya yang sangat redup. Nabi Bersabda :
” صُوْمُوْأ لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ
فَإِنْ غَمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْلِمُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا"
Artinya : “Berpuasalah kalian karena melihat hilal
(bulan tanggal satu) dan berbukalah karena melihatnya. Dan jikalau tidak tampak
lantaran langit tertutup awan maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban genap
30 hari.” (HR. Imam Bukhari ).
Dalam hadits diatas
menjelaskan bahwa metode pertama dalam menentukan awal masuk bulan puasa ialah rukyat,
namun apabila cuaca mendung atau buruk yang mengakibatkan hilal tidak mungkin
untuk dilihat maka Nabi memberi jalan keluar dengan cara Istikmal yakni
menyempurnakan bulan Sya’ban dengan 30 hari, Hilal sendiri menurut keputusan
yang telah disepakati memiliki batasan, bulan tersebut harus memiliki tinggi
minimal 2 derajat dan jarak antara bulan
dan matahari adalah 3 derajat (http://kemenag.go.id ). Oleh karena itu, apabila
posisi hilal kurang dari kriteria tersebut maka penentuan bulan dilarikan ke
Istikmal.
Kemudian ada juga istilah
metode Hisab. Hisab adalah suatu cara untuk menetapkan awal bulan Ramadhan,
dengan menggunakan perhitungan secara matematis dan astronomis dalam menentukan
posisi bulan untuk menentukan pergantian suatu bulan pada kalender Hijriyah.
Penghitungan masuknya bulan lewat hisab ini juga sering disinggung oleh
Al-Quran seperti dalam surat Yunus ayat 5 :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ
مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَاخَلَقَ اللهُ ذَلِكَ إِلاَّ
بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya : “ Dia-lah yang
menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang
demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya)
kepada orang-orang yang mengetahui”. [ QS. Yunus : 5 ]
Memahami Akar Perselisihan
Dalam memahami beberapa
dalil diatas ulama memang sempat berdebat tentang penggunaan hisab, namun
mengenai penggunaan rukyat, mereka semua sepakat, dan rukyat adalah cara paling
utama dalam menentukan awal masuk suatu bulan. Posisi hisab ini kemudian hanya
sebagai alat bantu, dimana tugasnya yaitu mengambil perkiraan dan perhitungan
yang selanjutnya akan dibuktikan dengan rukyat itu sendiri. Jika menurut hisab tanggal
1 ramadlan jatuh pada malam Rabu, namun ketika dirukyat tidak ada hilal yang
terlihat pada malam tersebut, maka Hisab tersebut gugur dan harus menggunakan istikmal.
Di Indonesia sendiri perbedaan
awal masuk bulan Ramadlan secara umum dilatarbelakangi oleh perbedaan
penggunaan metode dan hasil keputusan akhir dari metode, yang pertama mengenai penggunaan
metode, yakni mana yang lebih diunggulkan antara Rukyat dan Hisab, ada beberapa
kelompok di Indonesia yang lebih mengedepankan Hisab. namun kebetulan hisab
yang mereka lakukan berbeda dengan penetapan resmi dari pemerintah sehingga
mengakibatkan bedanya tanggal 1 bulan Ramadlan. Penetapan dan keputusan hasil
akhir dari kelompok tertentu juga kadang berbeda, semisal ada suatu kelompok
yang menggunakan rukyat tapi rukyat yang mereka langsungkan menghasilkan
ketetapan yang berbeda dengan pemerintah, Memang dalam fiqih bagi seseorang
yang sudah melihat hilal maka baginya wajib melaksanakan puasa, namun yang
membuat hal ini masuk ke ranah perselisihan adalah karena hal yang seharusnya
menjadi ranah pribadi ini justru digunakan resmi oleh ormas atau lembaga
terkait, dengan mengeluarkan fatwa yang mengatasnamakan kelompok tersebut dan
mengesampingkan keputusan pemerintah. Pemerintah sendiri dalam menentukan masuk
awal bulan, menghimpun beberapa hasil dan pendapat dari seluruh elemen
masyarakat, mulai dari ormas-ormas, tokoh-tokoh dan lembaga-lembaga yang
tersebar diseluruh Indonesia, dan hasil akhir diputuskan pada sidang isbat yang
diikuti oleh banyak ulama.
Mengedepankan Keharmonisan
Terlepas dari metode apa
yang kita gunakan, atau kelompok mana yang kita ikuti, ada baiknya, kita lebih bersikap
dewasa dan dengan lapang dada mengikuti ketetapan pemerintah, terlebih jika salah seorang dari kita merupakan orang
yang berpengaruh di daerahnya atau membawahi sebuah komunitas besar. Sehingga
perbedaan ini akan bisa teratasi dan keharmonisan dapat lebih terjaga,
kegelisahan-kegelisan masyarakat luas pun dapat hilang. Pemerintah sendiri juga
telah melakukan berbagai upaya penyatuan dan keharmonisan sebagaimana Fatwa MUI
Nomor 2 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa seluruh umat islam di Indonesia wajib
mentaati ketetapan Pemerintah RI tentang Penetapan awal Ramadhan, Syawal dan
Dzulhijjah.
Sebesar apapun komunitas
kita, setinggi apapun posisi kita, kita semua adalah warga Negara Indonesia
yang wajib mengikuti keputusan-keputusan pemerintah, terlebih jika keputusan
tersebut memilki arah tujuan yang sangat baik, alangkah baiknya sejenak kita
melepaskan ego masing-masing individu atau kelompok, demi mengedepankan bulan
Ramadlan yang lebih indah dan keharmonisan dalam beragama sehingga tidak perlu
ada lagi perbedaan masuk dan berakhirnya bulan Ramadlan , bulan Ramadlan bulan
yang indah, akan lebih indah jika kita mengindahkannya.
Sarang, 21
Juni 2014
M. Akrom
Adabi
4/12/2015
Subscribe to:
Posts (Atom)















